|
Warning: fopen(counterme.dat) [function.fopen]: failed to open stream: Permission denied in /home/renungan/public_html/marriageencounter.php on line 50
Warning: fputs(): supplied argument is not a valid stream resource in /home/renungan/public_html/marriageencounter.php on line 51
144

|
Ada
Dunia Baru
Ada
dunia baru Negeri harapan
Kukan sampai disana Bila kau membimbingku
Kuharap kau selalu, Kau ada disampingku
Karna hanya kau berarti bagiku
Bagi setiap insan ada pasangannya
Dan sudah kuputuskan kaulah teman hidupku
Meski kujelajah dunia sampai akhir hayatku
Namun hanya kau berarti bagiku
Jalannya masih jauh dampingilah aku
Bila taufan menderu jadilah kau panduku
Melimpahnya harta apalah artinya
Mungkin besok hilang lagi dan aku tak peduli
Tapi bila hilang cintamu, patahlah semangatku
Karna hanya kau berarti bagiku
Karna hanya kau berarti bagiku
Lagu
Dunia Baru
Sejarah
Gerakan Marriage Encounter ( ME )
Pada tahun1952 di Kota Bercelona
- Spayol , Pastor Gabriel Calvo didatangi sepasang suami - istri
yang menyatakan secara berpasangan membaktikan dirinya bagi kerasulan
untuk untuk suami istri . Sebelum ini mereka memang sudah aktif
di paroki , namun mereka sendiri , mungkin si suami di Depar dan
si istri di WK . Tapi mereka ingin bersama - sama dalam melakukan
kerasulan keluarga .
Mendapat tantangan ini , selama sekitar sepuluh tahun Pastor Calvo
dan pasangan tersebut mempersiapkan suatu program yang dianggap
sesuai bagi kerasulan untuk pasangan suami - istri , dan pada tahun
1962 di Bercelona itu diadakanlah WEME yang pertama yang waktu itu
dalam Bahasa Spayol di sebut sebagai Encuentro Conyugal .
Setelah mendapat sukses yang cukup besar di Spayol , maka pada tahun
1966 Pastor Calvo memperkenalkan program ini dalam pertemuan Konggres
Internasional CFM ( Christian Family Movement )yang diadakan di
Venezuela , dan dari situ para pemimpin CFM membawa program tersebut
ke hampir seluruh Negara di Amirika Larin . Setahun kemudian , pada
tahun 1967 , Encuentro Conyugal sudah sampai di Amirika Serikat
, namun semula masih terbatas bagi mereka yang berbahasa Spayol
dan baru pada Agustus 1967 di bawakan dalam bahasa Inggris di Notre
Damme dengan sebutan Marriage Encounter .
Perkembangan terjadi begitu cepat . Pada musim panas tahun 1968
ada sekitar 50 pasangan suami istri Team dan 29 Romo dari Spayol
di undang ke Amirika untuk mengadakan WEME di mana - mana . Sejak
itu ME semakin berkembang , terutama di wilayah Long Island , New
York , di bawah pimpinan Pater Chuck Gallagher yang mendalami program
ini secara lebih lanjut , hingga pada tahun 1974 berkembang secara
internasional dengan nama Worldwide Catholic Marriage Encounter
.
Di tahun 1975 , Almarhum Mgr. Leo Sukoto SJ , sedang mempelajari
gerakan kesejahtraan keluarga di Belgia , dan secara kebetulan menghadiri
pertemuan bina lanjut dari ME , beliau sangat tertarik dan mengundang
Team dari Belgie untuk memberikan WEWE di Indonesia . Team ME dari
Belgie bersedia , dengan catatan Mgr. Leo Sukoto juga bersedia mengikuti
ME tersebut . Maka pada tanggal 25 s/d 27 Juli 1975 di Tugu , Jakarta
, WEME pertama diadakan di Indonesia dalam Bahasa Vlaams ( yang
mirip Bahasa Belanda ) .
Setelah itu , Pastor Piet Nooy SVD , diutus selam tiga bulan ke
Belgie untuk memperdalam ME , dan sepulang dari sana mempersiapkan
Team , hingga pada tanggal 7 s/d 9 Mei 1976 diadakanlah WEME yang
pertama dalam Bahasa Indonesia di Samadi Shalom , Sindanglaya yang
di ikuti oleh 10 pasangan suami istri dan 2 orang suster .
Semenjak itu ME menyebar ke seluruh nusantara . Di Surabaya WEWE
pertama diadakan pada tanggal 29 s/d 31 Desember 1978 , dengan Team
yang masih didatangkan dari Distrik Semarang . Setelah memiliki
full time , maka pada tahun 1982 resmi menjadi ME Distrik Semarang
. Setelah memiliki full time , maka pada tahun 1982 resmi menjadi
ME Distri IV Surabaya , dan sampai dengan November 2003 , Distrik
IV Surabaya telah mengadakan 148 kali WEME di Keuskupan Surabaya
, belum termasuk WEME yang diadakan di Malang , Manado , Flores
, Denpasar , maupun Banjarmasin .
Sampai dengan tahun 2003 , ME Indonesia telah memiliki 11 Distrik
dan 10 wilayah . Semoga wilayah - wilayah ini juga segera dapat
menyusul lahir sebagai Distrik baru , sehingga dapat memberikan
pelayanan yang lebih luas bagi sesama .
AKHIR
PEKAN MARRIAGE ENCOUNTER
MEMBANTU ORANG BERUBAH
Akhir pekan ME dirancang bukan
untuk mengubah para peserta , tetapi mengundang mereka untuk berubah
demi relasi dengan pasangan dan relasi mereka sebagai suami - istri
denangan Tuhan . APME menyediakan alat untuk berubah , yaitu dialog
. Dialog bukan untuk mengubah melalui encounter , yaitu dialog antar
suami - istri , suatu komunikasi diadik . Dan dialog sebagai alat
akan berguna kalau dipakai dengan baik . Kesaksian - kesaksian pribadi
, penjelasan dan pengarahan tim serta hubungan persaudaraan antara
tim dengan para peserta dan antara para perseta sendiri , serta
juga suasana spiritual salam PME , sebelum ini hanya membantu .
Yang penting juga adalah kemauan
untuk meningkatkan relasi perkawinan . Relasi suami istri selalu
dapat saja ditingkatkan , asal mau . Siapa berani mengatakan bahwa
relasi perkawinannya sudah sudah begitu baik sehingga tidak dapat
ditingkatkan lagi . Tidak ada orang yang sempurna tetapi kami yakin
ada orang yang baik . Begitu pun , tidak ada perkawinan yang sempurna
, tetapi ada banyak perkawinan yang baik . Begitu pun , tidak ada
perkawinan yang sempurna , tetapi ada banyak perkawinan yang baik
. Perkawinan yang baik bukan berarti tidak pernah bertengkar , tetapi
adalah perkawinan dengan suami istri yang mau meningkatkan relasi
mereka , biar pun dengan jatuh bangun .
Sekarang , mari kita melihat
secara singkat suatu model mengenai bagai mana orang berubah . Bila
dipahami , mudah - mudahan kita akan lebih mantap untuk berubah
dan juga lebih mantap membantu orang lain berubah , terutama pasangan
kita dan bagi tim APME membantu para peserta ME berubah . Yang dikemukakan
di bawah ini bukan khusus untuk APME , tetapi secara umum . Namun
, coba kita , sebagai orang ME dan khusus bagi tim ME , melihat
bagaimana proses APME dan kegiatan - kegiatan ME lain bisa masuk
ke dalam teori kita .
Setelah Akhir Pekan ME ( atau
kegiatan ME lain , atau pun setelah ceramah , khotbah , retret ,
kursus , seminar , pelatihan , kuliah , dll. ) , tentu diharapkan
akan terjadi perubahan pada para peserta sesuai dengan tujuan yang
telah ditetapkan sebelumnya . Bila tidak terjadi perubahan apa -
apa , maka percuma kegiatan itu . ( Belajar berarti berubah , siapa
tidak berubah berarti tidak belajar . ) Perubahan itu harus dapat
dilihat dari luar dan dapat dinilai ( dievaluasi ) ; kalau hanya
di batin saja , tidak dapat dinyatakan keluar , tidak dapat diketahui
oleh orang lain , maka dianggap tidak ada perubahan .
Perubahan itu terjadi dalam
satu atau lebih bidang atau rana , yaitu :
Rana kognitif :
Pengetahuan , pemahaman . Sebelumnya belum paham , sesudahnya sudah
paham ; dan pemahaman itu dapat diungkapkan atau diceritakan kepada
orang lain , sebelumnya tidak dapat ; inilah perubahan yang terjadi
. Kalau belum dapat menceritakan kembali pengetahuan dan pemahaman
yang diperoleh , dianggap belum terjadi perubahan prilaku dalam
rana kognitif .
Rana efektif :
Sikap , minat , perasaan . Sebelumnya bersikap tidak baik atau tidak
punya minat , setelah mengalami proses APME sudah punya minat dan
sikap positif . Dan ini kelihatan pada prilaku , yaitu mengajak
orang ME lain bertukar pikiran tentang hal - hal yang di peroleh
dalam APME , ump. Tentang perasaan , Tuhan tidak menciptakan sampah
, gaya kepribadian , pengaruh dunia modern pada perkawinan , kehendak
Tuhan bagi perkawinan , perkawinan sebagai sakramen , dialog , kegiatan
terbuka dan merasul , dst. , dan mau melibatkan diri dalam kegiatan
- kegiatan ME . Bila hanya mengatakan bahwa ME itu bagus , tetapi
tidak berdialog , tidak mau terlibat , dsb. , maka belum terjadi
perubahan dalam rana efektif .
Sekali lagi , perubahan itu
harus dapat dilihat dan dievaluasi .
Rana psikomotor :
Ketrampilan melakukan sesuatu . Sebelumnya ump. tidak dapat menulis,
naik sepeda , main bulu tangkis , menggambar , memakai komputer
, dsb. , sesudahnya sudah dapat . Dalam ME tidak banyak perubahan
yang perlu terjadi dalam rana ini .
Rana interaktif
Ketrampilan social atau prilaku berkomunikasi , berelasi , berinteraksi
, bersosialisasi . Sebelumnya kaku , sukar , malu - malu , acuh
, kasar , kurang empati , dsb. , sesudahnya sudah lebih baik .Tujuan
utama dalam ME adalah perubahan dalam rana ini , ditunjang oleh
perubahan - perubahan dalam rana kognitif dan efektif .
Terlihat adanya tumpang tindih dari rana - rana itu , ump.untuk
dapat memakai komputer ( rana Psikomotor ) kita harus mengerti sedikit
tentang komputer ( rana kognitif ) ; untuk dapat relasi dengan baik
(rana interaktif) , kita harus mengetahui tujuan dialog dan cara
- caranya yang baik (rana kognitif) dan bersikap positif terhadap
dialog (rana afektif) .
Agar perubahan - perubahan itu
terjadi , maka dipakai suatu cara atau disediakan suatu pengalaman
belajar tertentu bagi para peserta . Satu cara atau pengalaman belajar
tertentu tidak dapat mengakibatkan perubahan yang sama besar dalam
semua rana . Untuk perubahan perilaku dalam setiap rana ada cara
- cara khusus yang lebih efektif dapat mengakibatkan perubahan dalam
rana itu .
Model Perubahan Prilaku menurut
Fishbein dan Ajnez ( 1975 ) dapat dipakai untuk memahami proses
perubahan perilaku . Pada umumnya kita tidak dapat mengubah orang
lain . Kita hanya dapat membantu ia berubah dengan menyediakan baginya
pengalaman - pengalaman yang membangkitkan niat untuk berubah dan
yang membantu perubahan itu terjadi padanya . Ada cara atau pengalaman
yang sederhana , ada yang sukar , ada yang murah biayanya , dan
ada yang mahal . Setiap cara ada kelemahan dan kelebihannya . Agar
efektif , artinya mencapai tujuan atau sasaran , maka suatu cara
harus digunakan sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai yang berada
dalam rana kognitif, afektif psikomotor , atau interaktif .
Cara - cara yang lebih efektif dapat mengakibatkan perubahan dalam
suatu rana tertentu , secara singkat adalab sebagai berikut ( sekali
lagi ada tumpang tindih ) :
Rana kognitif :
Ceramah , kuliah , khotbah , pidato , baca buku , dsb. ( sebelumya
tidak paham , sesudahnya sudah paham ) . Kalau cara - cara ini saja
yang dipakai , maka pengetahuan bertambah , tetapi mungkin sikap
tidak banyak berubah sehingga niat tidak meningkat untuk melakukan
perilaku X (lihat bagan) . Ini yang sering terjadi .
Rana efektif :
Diskusi kelompok , sharing , encounter , main peran , simulasi ,
kunjungan ke tempat tertentu , retret , dsb. (sebelumnya sikap tidak
baik , enggan , sesudahnya sikap baik , mau berpartisipasi ) . Cara
- cara ini lebih efektif untuk mengubah sikap .
Rana psikomotor :
Berlatih ketrampilan , dsb. (sebelumnya tidak dapat melakukan ,
sesudahnya dapat melakukan : ump. menggambar , berdialog , berbicara
di depan umum , memasak , bersepeda , memakai komputer , dsb. )
. Perubahan dalam rana ini tidak banyak diperlukan dalam ME .
Rana interaktif :
Main peran , simulasi , encounter , kerja di tempat yang sebenarnya
, mengerjakan proyek , dsb. (sebelumnya malu , kaku , kasar dsb.
, sesudahnya ramah , terbuka , sopan , berempati , dsb. ) . Dalam
ME diperlukan terutama perubahan dalam rana ini , ditunjang oleh
perubahan - perubahan dalam rana kognitif dan afektif .
Mengalami perubahan merupakan suatu proses . Tergantung dari sifatnya
, maka perubahan perilaku dapat terjadi dalam waktu singkat atau
lama (beberapa bulan - tahun). Sering perlu pengulangan pengalaman
belajar agar perubahan ini bertahan . Perilaku baru itu dikuatkan
setiap kali diulangi .
Setelah mengalami APME , maka
perlu sekali kita melakukan dialog secara berkala , mengalami Bridge
Process serta pertemuan - pertemuan ME lain . Kita berjalan bersama
para pasutri ME lain yang mempunyai nilai - nilai yang sama dengan
kita , yang hendak mengembangkan relasi perkawinan dengan cara ME
. Dengan demikian kita akan tumbuh dan berkembang . Tumbuh berarti
prilaku dan relasi bertambah kuat atau bertambah baik , berkembang
berarti mendapatkan ciri - ciri , sifat - sifat atau perilaku baik
yang baru .
Contoh : Kita melihat tidak sedikit rumah tangga " damai ,
tapi gersang " , terjadi salah paham dan pertengkaran kecil
atau pun besar , bukian karena kehendak tidak baik , tetapi karena
keunikan kita dan karena komunikasi yang sebenarnya dapat menjembatani
keunikan itu , ternyata tidak baik juga .
Penelitian menunjukkan bahwa
relasi suami istri berhubungan erat dengan komunikasi yang baik
. Dengan meningkatkan komunikasi , maka relasi yang belum begitu
baik menjadi baik , dan yang sudah baik dapat menjadi lebih baik
lagi . Karena kita peduli , maka kita hendak melakukan sesuatu agar
para suami istri dapat berkomunikasi lebih baik dengan satu , dan
secara berdua berelasi lebih baik dengan Tuhan . Kita lalu menawarkan
suatu pengalaman Akhir Pekan Marriage Encounter .
Tujuan APME secara umum dan
terinci harus ditetapkan dan diberitahukan kepada semua yang terlihat
, tim dan peserta . Kalau tujuan tidak dibertitahukan , maka ibarat
kita mau berangkat bersama , tetapi tidak tahu mau kemana .
Kalau kita berangkat saja tanpa
mengetahui tujuan kita , maka tidak peduli kita mengambil arah mana
, kita akan tiba disuatu tempat entah dimana . Karena itu dalam
kerangka APME pada permulaan setiap presentasi dicantumkan tujuannya
umum .
Sebagai
contoh saja kita tetapkan tujuan APME adalah :
Tujuan Umum
Setelah APME , para peserta sudah dapat berelasi dan berkomunikasi
dengan lebih baik . Tetapi tujuan umum masih terlalu umum dan abstrak
, perlu dijabarkan dalam perilaku konkrit yang dapat diamati dan
dinilai ( dievaluasi ) . Dari begitu banyak hal yang penting yang
berhubungan dengan berelasi dan berkomunikasi dengan baik , yang
perlu dikembangkan , kita mengambil hanya satu hal saja sebagai
contoh di sini , yaiut " hal mendengarkan " .
Jadi kita tetapkan :
Tujuan Khusus
:
Setelah terlibat sungguh - sungguh dalam APME , para peserta sudah
dapat mendengarkan dengan baik , yaitu menatap muka pembicara dan
berhenti melakukan kegiatan lain , tidak memotong pembicaraan ,
bertanya , menanggapi , mengulangi atau menyimpulkan apa yang didengarkan
, dsb. .
Perilaku X dalam bagan Fischbein dan Ajzen menggambarkan tujuan
khusus itu ( selanjutnya mohon dilihat bagian di bawah ini ) .
Niat :
Untuk mendengarkan dengan baik harus ada niat dan keputusan untuk
melakukannya . Kalau tidak ada niat maka kita tidak akan melakukan
.
Sikap :
Agar niat diperkuat , maka sikap terhadap mendengarkan harus menjadi
positif . Sikap positif dibangkitkan dengan contoh - contoh dan
sharing pembimbing , encounter atau dialog antara suami istri ,
dan diteruskan dalam Bridge Process dengan sharing kelompok , merasakan
sendiri hasilnya pada teman , dsb. . Sikap adalah kecendrungan untuk
bertindak disertai perasaan positif atau negatif . Kita tentu membangkitkan
kecendrungan bertindak yang disertai perasaan positif .
Kepercayaan dan penilaian tentang akibat :
Sikap menjadi positif , bila kita percaya bahwa akibat mendengarkan
betul - betul memuaskan , dan bila kita dapat menilai bahwa akibat
itu sungguh baik . Hal ini tercapai dengan penjelasan - penjelasan
ditunjang dengan alat audiovisual dan contoh - contoh dari pembimbing
, sharing , sharing kelompok , dsb. .
Norma Subyektif :
Niat diperkuat bila kita mempunyai norma subyektif (pribadi) yang
positif terhadap mendengarkan , yaitu bahwa mendengarkan sangat
penting dalam komunikasi kita sebagai mahluk social yang saling
membutuhkan , yang interdependent , dan yang harus pandangan hidup,
pandangan terhadap komunikasi dan relasi antar manusia , dengan
latar belakang kebudayaan , adat istiadat , kepercayaan , dsb. .
Kepercayaan normative dan motivasi untuk menuruti :
Norma subyektif terhadap mendengarkan dapat menjadi lebih positif
bila kita mempunyai kepercayaan normative yang baik , yaitu ada
panutan atau orang yang kita kagumi dan percaya dalam hal mendengarkan
(yaitu anggota tim , dan pasutri atau orang lain dalam hidup kita)
, yang dapat meningkatkan motivasi kita untuk menurutinya .
Ringkasan :
Kita hendak membantu para suami istri berubah agar berelasi lebih
baik . Kita lantas tetapkan tujuan umum , apa yang hendak kita capai
secara umum dalam rana kognitif efektif , psikomotor atau interaktif
. Kemudian , sesuai dengan rana - rana pada tujuan umum , ditetapkan
tujuan khusus , yaitu prilaku yang perlu dicapai . Perubahan prilaku
itu harus dapat diamati dan dinilai . Baru akhirnya kita memilih
cara atau pengalaman belajar ( dan alat audiovisual) yang dapat
membantu peserta berubah . Memang tidak mudah . Jangan heran atau
bahkan menyalahkan para peserta bila setelah APME atau setelah ceramah
, kotbah , rekoleksi atau seminar dsb. , sering semua berjalan seperti
sebelumnya . Tujuan khusus atau prilaku X yang menjadi sasaran tidak
tercapai . Mungkin hanya terjadi perubahan dalam rana kognitif (pengetahuan
dan pemahaman bertambah ) , tetapi sikap hanya sedikit berubah sehingga
niat tidak menjadi lebih kuat dan prilaku X yang menjadi sasaran
tidak terwujud .
|